Bab 56.

1771 Kata

“Mbak Alifa… apa kabar?” Alifa menoleh saat suara itu terdengar dari arah pintu. Senyum tipis langsung terukir di wajahnya ketika melihat Kinanti berdiri di sana, dengan wajah cerah yang sudah sangat ia kenal. Wanita itu melambaikan tangan kecil, matanya berbinar seolah rasa rindunya akhirnya terbayar. “Kinan…” Alifa mendekat. “Kamu akhirnya datang juga.” Kinanti tertawa kecil. “Iya. Susah banget nyari waktu, Mbak. Kerjaan lagi numpuk, tapi begitu dengar Kiara sudah pulang dari rumah sakit, aku langsung bilang ke diri sendiri—nggak boleh nunda lagi.” Ia meletakkan tasnya, lalu memeluk Alifa erat. Pelukan itu terasa hangat, penuh kelegaan, seakan mewakili semua kekhawatiran yang selama ini hanya bisa disampaikan lewat pesan singkat. “Kamu gimana?” tanya Kinanti sambil melepaskan peluka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN