Tangis Kirana pecah, Ratna tidak bisa menghentikannya karena setiap kata yang terucap dari bibirnya hanya membuat wanita itu semakin menangis saja. “Tenangkan dirimu.” Ratna mengusap punggung Kirana dengan lembut. “Maaf, jika ibu terlambat menceritakannya padamu. Selama ini Ibu berpikir kalau Erlangga memperlakukanmu dengan baik, karena kamu selalu terlihat bahagia saat di sampingnya. Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak memikirkan bagaimana perasaanmu, ibu hanya mementingkan diri sendiri.” Ratna pun ikut menangis. “Ibu minta maaf, ibu sungguh sangat menyesal.” Kirana tidak menjawab, tangisnya semakin terdengar pilu. Ratna membawa Kirana ke kamar pribadinya, yang letaknya berada di bangunan paling belakang. Ratna sengaja memilih kamar di paling belakang, berjarak dengan kamar lainnya seba

