“Kamu masih memberinya kesempatan?” tanya Adrian, saat lelaki itu menemani Kirana mengambil kain pesanan ibu mertuanya. “Bukan kesempatan, hanya kesepakatan.” Kirana memperjelas. “Aku hanya menambah waktu selama tiga puluh hari, setelah itu kami akan tetap bercerai.” Wanita itu tersenyum, namun Adrian melihat senyum pedih yang disembunyikan Kirana. “Yakin?” ia menatap Kirana dengan tatapan menyelidik. “Iya,” meski begitu jawaban Kirana tidak meyakinkan. Sebagai seorang teman yang sudah membersamai Kirana sejak lama, bahkan saat Adrian masih duduk di bangku sekolah menengah akhir, lelaki itu sangat mengenal baik sosok Kirana. Berharap masih ada kesempatan untuk menyatakan cinta, setelah ia menyelesaikan pendidikan dan tanggung jawabnya sebagai salah satu anak pebisnis, nyatanya Adr

