Ahsan tak menunggu lama. Hanya berselang sehari setelah ia ‘meminta doa’ pada Luna, keesokan malamnya ia sudah menghadap Abi Jamal. “Ada apa, Nak?” Abi Jamal bertanya lembut, belum tahu maksud Ahsan. Ahsan menelan ludah, berjalan mendekati Abi Jamal yang sedang membaca kitab berbahasa arab. “Abi… lagi sibuk?” Ahsan bertanya patah-patah. Abi Jamal meletakkan kitab di tangannya. “Enggak juga. Ada yang mau kamu sampaikan?” Ahsan menatap Abi Jamal lamat-lamat. Jantungnya berdebar tak karuan. Telapak tangannya basah oleh keringat, jari-jemarinya saling meremas gelisah. Ia menarik nafas dalam, berusaha berbicara setenang mungkin. Abi Jamal tidak akan suka jika dirinya terlihat ragu. “Apa… ada yang sudah mengkhitbah Ning Luna, Bi? Kalau belum, saya berniat untuk meng–” Kalimat Ahsan terput