“Keracunan makanan,” gerutu Hikari sambil melirik adiknya yang bertampang pucat. “Kau pasti makan sembarangan selama di Yokohama.” Itsuki menggeleng lesu dan berjalan dengan langkah diseret-seret di sebelah Hikari. “Tidak makan apa-apa,” gumamnya. “Hanya jajan sedikit ... di sana-sini.” Hikari menggandeng lengan adiknya karena sepertinya Itsuki tidak bisa berjalan tegak dan lurus tanpa dibantu. Ia merapatkan jaket dan syal Itsuki ketika mereka keluar dari gedung rumah sakit. Rupanya sedang hujan. Itsuki menggigil. Hikari menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berkata kepada Itsuki, “Kau tunggu di sini dulu sebentar. Aku akan memanggil taksi.” Itsuki mengangguk lemah. Ia sangat ingin berbaring saat ini. Perutnya sakit, dadanya sesak, kepalanya berat, dan lidahnya terasa pahit. Ia membenamk

