Takumi sangat terkejut ketika melihat Yuri berdiri di tengah-tengah tangga gedung apartemennya. Terlebih lagi ketika ia baru saja akan mengungkapkan perasaannya kepada Aiko. Ketika ia baru saja akan berkata, ‘Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi aku yakin dengan apa yang kurasakan. Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku merasa kau adalah seseorang yang penting dalam hidupku.’ Astaga! Apakah ia benar-benar akan berkata seperti itu tadi? Kedengarannya sangat konyol, tetapi itu kenyataannya. Aiko memang penting baginya. “Taku.” Suara Yuri membuyarkan lamunannya. “Apakah kau marah karena aku tiba-tiba muncul tanpa menelepon lebih dulu?” Takumi menoleh ke arah Yuri. “Tidak,” sahutnya singkat, lalu tersenyum. “Aku tidak marah. Tapi kalau kau menelepon lebih dulu, kau tidak p

