Siva membuka mata dengan kepala berat dan tubuh terasa remuk. Setiap ototnya seperti menolak untuk digerakkan. Ia menatap sekeliling, dan pandangannya langsung jatuh pada sosok Sakha yang tertidur di sampingnya, tengkurap, dengan napas teratur dan wajah tenang, seolah tak terjadi apa pun. Hatinya bergetar antara marah, kecewa, dan bingung. Ingatan samar tentang malam sebelumnya berkelebat, membuat dadanya sesak. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca, berusaha memahami perasaan campur aduk yang berkecamuk di dalam dirinya. “Aku ini bodoh… kenapa bisa sejauh ini,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Ada bagian dalam dirinya yang menolak kejadian itu, tapi ada pula sisi kecil yang tak ia mengerti yang justru menimbulkan rasa takut baru. Siva menarik selimut, berusah

