Hati Ferrin serasa diremukkan perlahan mendengar jawaban itu. Ia sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan, tapi tetap saja, bukan ini yang ingin ia dengar. Dalam hatinya, ia berharap Nyra akan tersenyum dan berkata “ya,” bahwa perasaan yang ia rasakan ternyata berbalas. Namun, yang ia dapatkan justru penundaan dan kebisuan di antara embusan angin pantai yang membuat da-da terasa sesak. “Kenapa?” tanyanya akhirnya, dengan suara nyaris bergetar. “Apakah aku terlalu terburu-buru?” Nyra menatap pasir di bawahnya, jemarinya meremas ujung bajunya yang terkena butiran pasir. Ia ingin berkata jujur tentang Sakha, tentang masa lalu, tentang luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar hanya alasan setengah hati, “Aku… belum siap, Dok. Aku masih ingin menyelesaikan masa

