Sejenak pikiran Sakha benar-benar kosong, seperti layar putih tanpa arah. Namun di balik kebisuannya, ada dorongan kuat dari dalam hatinya, dorongan untuk mencari kebenaran, memastikan dengan matanya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Kata-kata asistennya terus berputar di kepalanya, menggema tanpa henti, membuat dadanya terasa sesak. Tangannya mengepal di atas meja, menahan gejolak emosi yang mulai menguasai dirinya. “Apa aku temui dia setelah ini?” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, namun penuh dengan getaran kecewa yang dalam. Tatapannya jatuh pada foto di meja pada dua wajah yang identik tapi menyimpan misteri besar di antara keduanya. Ia menunduk lama, merasakan campuran marah, terluka, dan bingung. “Kalau memang dia bukan Nyra… lalu siapa yang sudah bersamaku selama ini?” bisi

