“Ini konyol,” gumamnya datar, “absurd much.” Kavin menatap laut seolah ombaknya melakukan penghinaan personal padanya. Callara mendecak, lalu menarik pergelangan tangan Kavin makin ke tengah bibir pantai, air mencapai mata kaki mereka. “Try!” serunya. Kavin mengerutkan alis. “Nope.” “TRY!” “No.” Callara menyilangkan tangan, mendongak angkuh. “Cupu.” Kavin memiringkan kepala. “Excuse me?” “Dasar mafia cupu.” Nada itu ringan, tapi tikaman harga dirinya seperti menusuk singa pakai cotton bud tapi tetap kena ego. Kavin menggigit bibir bawahnya, rahangnya mengeras menatap Callara yang menatapnya dengan mata yang berkilat menantang. Raut wajah pria itu jelas-jelas sedang menimbang haruskah wanita ini diberi pelajaran? Atau bekap saja bibirnya dengan bibirku … yeap, solusi yang terlalu

