Callara akhirnya tidak tahan. Kalau dia terus berdiri di sana, melihat Kavin, dia yakin pembuluh darah di kepalanya bakal pecah. Jadi ia bangkit. Langkahnya cepat, hampir seperti orang lari dari dosa. “Callara mau ke mana?” tanya salah satu gadis Bajo sambil cekikikan. “Bantuin … Mama Lidia.” Ia langsung melengos menuju rumah Mama Lidia. Kebetulan Mama Lidia sedang menjemur seprai dan sarung bantal bilik, mengibaskan kain itu agar rata. Aroma sabun kelapa dan matahari memenuhi udara. “Mama Lidia … saya bantu ya,” ujar Callara cepat, berusaha tampak sibuk dan tidak peduli pada bule eks1bis1onis yang sedang dikerumuni perempuan itu. Mama Lidia tersenyum hangat. “Ooh … boleh sekali, Nona. Seprai ini berat kalau basah.” Callara mengambil salah satu sisi seprai, menariknya tinggi agar ti

