Arman berjalan cepat menuju pintu utama kantornya, perasaannya campur aduk antara cemas dan senang. Begitu sampai di luar, dia langsung melihat Alin yang berdiri, melambaikan tangan dengan senyum sumringah. Tanpa berpikir panjang, Arman menghampirinya dan langsung memeluknya erat. Alin terlihat sedikit terkejut, namun akhirnya membalas pelukan itu dengan lembut. “Kenapa tiba-tiba datang ke sini?” tanya Arman sambil menatap wajahnya, suaranya penuh kekhawatiran namun juga kehangatan. Alin tersenyum kecil dan berkata dengan nada bercanda, “Apa aku tidak boleh datang? Atau kamu takut ketahuan seseorang?” Arman menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tidak, aku hanya tidak menyangka. Kamu terlihat sangat ceria. Ada apa, Alin?” “Aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa itu salah?” jawab Alin den