Setelah Alin menghilang di balik pintu kamar, Lisa mencoba mencairkan suasana lagi. "Sepertinya Alin memang butuh istirahat. Dia terlihat sangat lelah." Barry mengangguk setuju, sementara Arman tetap diam, tatapannya terpaku pada gelas birnya yang kosong. Arman berdiri tiba-tiba, membuat Barry dan Lisa menatapnya dengan heran. "Aku harus pergi," ucapnya singkat, lalu berjalan keluar tanpa menunggu tanggapan. Barry mengerutkan kening, tapi Lisa hanya menghela napas panjang, merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di antara mereka semua. “Barry,” panggil Lisa pelan, “kamu merasa nggak sih kalau Arman akhir-akhir ini berubah?” Barry mengangguk, meletakkan gelas birnya di meja. “Ya, aku juga merasa begitu. Dia nggak seramah biasanya. Bahkan tadi dia hanya bicara seadanya, sepe