Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Alin dan Arman semakin dekat, meskipun mereka berdua tahu jalan yang mereka tempuh penuh risiko. Dalam diam, mereka berbagi cerita, perhatian, dan senyum yang hanya mereka pahami. Ketika Barry dan Lisa sering bepergian keluar kota karena pekerjaan, waktu seolah menjadi milik mereka. Dalam kesempatan-kesempatan itu, Alin dan Arman menciptakan dunia kecil mereka sendiri. Sore itu, di sebuah kafe kecil di sudut kota, Alin duduk di depan Arman sambil memutar-mutar sedotan di dalam segelas es teh. Matanya berbinar, meskipun ia mencoba menyembunyikannya dengan senyum kecil yang malu-malu. “Kamu tahu, Arman,” ucap Alin pelan, menatap keluar jendela. “Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa ... begini.” “Begini bagaimana?” Arman bertanya sambil