Alin memuntahkan semua isi perutnya, dia merasa sangat pusing dan lemah. Di luar, Barry berjalan mendekat menghapiri Alin dengan mengetuk pintu kamar mandi. “Alin! Kamu gak papa?” tanya Barry dengan suara cemas. Alin membuka pintu, wajahnya terlihat sangat pucat dan bahkan sulit untuk berjalan. Barry memegangi tangan Alin dengan panik. “Sepertinya aku tidak bisa makan, Barry. Aku tidak berselera, aku ingin istirahat saja,” ucap Alin dan melepaskan pegangan Barry lalu berjalan ke arah kamar. Namun, pertanyaan Barry menghentikan langkah Alin. “Alin, sudah berapa hari kamu telat menstruasi?” tanya Barry. Alin terpatung di tempatnya, pikirannya campur aduk. Pertanyaan itu membuatnya teringat pada malam panasnya dengan Arman. Perlahan Alin pun menoleh, dan dengan suara yang bergetar di