Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu malam memantul di kaca jendela, seperti garis-garis waktu yang saling berkejaran antara masa lalu, masa kini, dan ketakutan akan hari esok. Aku menatap ke luar jendela, berusaha mengatur nafas dan tak berlama-lama menatap mas Haris, karena rasa bersalahku. "Fira," panggil Mas Haris pelan tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Kamu capek?" Aku menoleh. Sorot matanya lembut, tapi ada sesuatu di sana, kepekaan yang selama ini selalu membuatku merasa telanjang tanpa perlu bertanya apa pun. "Enggak, Mas," jawabku cepat. Terlalu cepat malah. Mas Haris tersenyum kecil. "Kalau capek, bilang. Kamu nggak perlu kuat sendirian." Ucapnya tenang. "Apalagi kita hanya berdua sekarang..." Kalimat itu sederhana. Tapi dadaku seperti d

