Melihat tekadnya aku hanya bertekad untuk tidak menjadi pecundang atau menjadi memory buruk untuk mas Alvin. Setidaknya dengan pengorbanannya selama ini untuk tetap bertahan denganku, aku juga harus memberikan kenangan yang manis untuknya, bukan tentang aku wanita miskin yang lemah dan tidak memiliki rasa percaya diri dan kekuatan cinta. Aku ingin membuktikan bahwa aku juga wanita yang memiliki ambisi untuk hidup dan membangun masa depan, meski itu mustahil. Atau kata kasarnya adalah, usaha aja dulu, soal hasil belakangan. “Kamu tenang aja, Mas. Kalau aku saja mendapatkan cinta yang begitu besar dari kamu, kenapa aku tidak membalas cinta yang lebih besar pula? Jadi, jangan kawatir tentang di tinggalkan, karena aku tidak akna kemana-mana…” bisikku dan mas Alvin menatap lama ke arahku. Ada

