Bab 25. Patahkan Tangan. "Tempat apa ini, Rafael?" Elara menelusuri sebuah bangunan yang terlihat tua dan tak terawat dari luar, namun di dalam sungguh berbeda. Tempat itu adalah gudang enyimpanan senjata milik Rafael. Jauh dari kota Jakarta. Di sudut ruangan yang redup, Elara duduk sambil memegangi selimut tipis yang Rafael berikan tadi pagi. Udara asin dan sedikit amis dari dermaga merambat lewat celah jendela kecil, menusuk hingga ke tulang. Rafael berjalan mondar-mandir sejak Luca membawa laporan tentang operasi polisi semalam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Elara sejak mereka tiba. Tapi tatapannya terus mengikuti setiap gerak gadis itu, seakan tubuhnya adalah teka-teki yang harus ia pecahkan. Elara berpura-pura sibuk merapikan rambutnya, namun ia tahu betul betapa int

