Bab 49. Elara Menjadi Umpan "Kopi?" Luca menyodorkan cangkir timah kedua ke arah Rafael, namun matanya tertancap pada Elara yang terbaring di kantong tidur. Rafael menggeleng, menatap wajah Elara yang masih tertutup bayangan tidur palsu. "Kita perlu bicara." Suaranya parau, mengiris dinginnya pagi di kabin. Elara membuka mata. Ia tidak berpura-pura lagi. Perlahan ia duduk, menyandarkan punggung ke dinding kayu yang dingin. "Bicara tentang apa?" "Tentang kebenaran," jawab Rafael. Ia mendorong kursi kayu mendekat, duduk berhadapan dengannya. Jarak mereka hanya satu meter. "Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dermaga itu. Sebelum hidupmu nanti akan jadi taruhan." “Maksudnya apa? Kenapa hidupku harus jadi taruhan?” Elara menatap tajam ke Rafael. Sekuat hati ia paksakan agar rencana Rafa

