“Astaga…” Asila berdiri di depan cermin kamar. Tangannya merapikan kerah kemeja putih yang ia setrika sendiri subuh tadi. Rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya tampak segar,. “Semangat, Asila,” gumamnya pada bayangan sendiri. “Hari ini,hari pertama tanpa bayang bayang keluarga wijaya.” Dari belakang, Dion terbangun. Ia duduk di tepi ranjang,menyandarkan siku ke lutut, menatap punggung Asila tanpa suara. “Kamu berisik banget,ini masih pagi buta sudah bangunkan orang tidur,” kata Dion akhirnya, datar.Asila menoleh cepat.“Eh, maaf aku ganggu ya?” Dion mengangguk,wajahnya tajam.“Kamu berisik!!.” Asila tertawa kecil.“Maaf. Aku… deg-degan.” “Kenapa?”Tanya Dion datar. “Ini 'kan Hari pertama aku kerja.” “Oh.” Dion mengangguk. “Jam berapa masuknya?” “Jam sembilan. Tapi aku mau berangkat lebi

