Pagi di keluarga Wijaya selalu tampak seperti uji nyali bagi Asila,tapi pagi itu berbeda.“Apa pun yang kamu lakukan di luar rumah, jaga sikap.” Sendok Mama Meli berhenti tepat di atas mangkuk supnya.Semua orang di meja makan langsung terdiam.Tatapan tajam itu jatuh tepat ke arah Asila. “Kamu sekarang bagian dari keluarga Wijaya,” lanjut Mama Meli datar. “Aku tidak mau ada gosip murahan tentang menantu keluarga ini.” Asila mengangguk sopan.“Iya, Tante.”Nada suaranya tenang, tapi jari-jarinya yang menggenggam sendok sedikit mengeras.Mama Meli mengangkat dagu, seolah puas.“Bukan cuma jaga nama baik,” tambahnya. “Hati-hati sama orang asing. Dunia kerja itu nggak bersih.”Dion melirik sekilas.Nada bicara Mama Meli memang dingin, tapi ada sesuatu yang… tidak sepenuhnya kejam. Asila menangkap

