Dion menatap Asila lekat lekat. “Aku nggak kenapa-kenapa.” Asila bilang begitu, tapi tangannya gemetar. Dion berdiri di seberangnya, bersandar di dinding ruang keluarga.Jasnya sudah dilepas, kemeja terbuka satu kancing. Wajahnya lelah, tapi matanya terus menerus mengawasi Asila. “Kamu yakin?” tanyanya datar. Asila mengangguk cepat.“Iya.” Padahal napasnya masih belum teratur.Dion mendecakkan lidah pelan. Ia berbalik tanpa bicara lagi, melangkah ke arah dapur.Asila memperhatikan punggung Dion menjauh.Dia pasti kesel, batinnya.Atau… cuek. Di dapur, Dion membuka lemari. Tangannya bergerak cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang katanya tidak peduli.Air dipanaskan. Bubuk cokelat dituang. s**u ditambahkan.“Bodoh,” gumamnya sendiri. Ia mengaduk pelan, menunggu uap naik. Entah sejak kapan,

