Teror Sudah Masuk Wilayah Pribadi

1852 Kata

“Mulai hari ini kamu jangan ke mana-mana sendiri.”Asila menoleh cepat.“Apa?” Dion berdiri di ambang pintu kamarnya—kamar mereka.Rambutnya masih sedikit berantakan, kemeja hitamnya belum dikancing penuh.Nada suaranya datar,tapi tidak bisa menyembunyikan tekanan di dalamnya. “Aku bilang,” ulang Dion,“Kamu jangan ke mana-mana sendiri.” Asila menyilangkan tangan.“Kamu mau ngatur aku sekarang?” “Ini bukan ngatur,” Dion mendengus.“Ini soal keamanan.” Asila tertawa kecil, getir.“Sejak kapan kamu peduli sama keamananku?” Dion terdiam sejenak.“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,” jawab Dion akhirnya. Kalimat itu terucap kaku,cepat seperti setengah berbisik. Asila menatapnya lama. “Kamu takut aku kenapa-kenapa,” katanya pelan, “atau takut nama keluarga Wijaya tercoreng?” Dion menegang. “Ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN