Paginya Dion dan Asila serasa sedang perang dingin satu sama lain.Mereka berjalan beriringan namun tak berbicara sepatah katapun.”Sayang,kamu tidak sarapan dulu?”Oma menyapa Asila dari meja makan ketika Asila hendak mengambil kunci motornya.Asila tersenyum kepada Oma Andini.”Tidak Oma,aku sudah kenyang,”lirik Asila tajam menatap Dion.Tapi Dion tanpa rasa bersalah langsung duduk di meja makan. Di kantor Asila bekerja seperti biasa,tapi pikirannya melayang membayangkan pertengkarannya dengan Dion semalam. “Sil,makan siang bareng yuk.” Asila yang sedang merapikan meja kerjanya mendongak.Jonathan berdiri di sampingnya,tangan dimasukkan ke saku celana, ekspresinya santai tapi matanya serius. “Hah?” Asila mengerjap.“Sekarang?” “Iya,” jawab Jonathan. “Kamu kan belum makan.” Asila ragu.“J

