“ASILA!” Suara Dion memecah keheningan gang sempit itu untuk kesekian kalinya. Tangannya masih mengepal, napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya menyapu setiap sudut gelap, setiap bayangan, setiap kemungkinan. Kosong.Tidak ada Asila.Tidak ada jejak selain motor tergeletak dan ponsel yang dingin di tangannya.Dion menunduk, meraih ponsel itu.Layar menyala. Pesan terakhir membuat darahnya seakan berhenti mengalir. 📩 Sekarang lihat sekelilingmu. “b******k…” gumamnya lirih, lalu tiba-tiba meraung, “BRRRRENNGGSEEEKKK!!!” Tinju Dion menghantam tembok gang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kulitnya robek, darah mengalir, tapi Dion tidak peduli.Untuk pertama kalinya sejak ia merasa hidup tanpa takut kehilangan, Dion Wijaya benar-benar kehilangan kendali. “Angkat. ANGKAT

