"Kalau aku setuju sekarang… kamu serius?” Asila berdiri di tengah ruang tamu apartemen Dion,tangannya mengepal serta dadanya terasa sesak.Dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. Dion berdiri bersandar di meja dapur. Wajahnya tenang,tanpa ekspresi. “Sama seriusnya dengan angka yang aku sebutkan tadi,”jawabnya datar. Asila tertawa kecil,merasa miris dengan hidupnya sekarang. “Satu miliar,” ulangnya lirih. “Itu bukan uang kecil buat orang kayak aku.” “Aku tahu,” kata Dion cepat. Justru karena jawaban itu,Asila merasa sangat rendah.Asila menunduk menahan air matanya. “Kamu tahu nggak sih…” “Kalau.. aku ini yatim piatu.” Dion tidak bereaksi sedikitpun. “Nggak punya orang tua.” “Nggak punya rumah.” “Nggak punya tabungan.” Suaranya bergetar, tapi dia memaksa dirinya berd

