Aksa berdiri mematung di depan pintu ruang karyawan yang tertutup rapat. Aroma minyak aromaterapi yang menenangkan di lorong itu justru terasa menyesakkan baginya. Ia bisa saja mendobrak pintu itu, menggunakan kekuasaannya sebagai pemilik gedung untuk memanggil Dina keluar, atau bahkan memecat manajer spa jika tidak memberinya waktu bicara. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, Aksa Adiguna merasa tidak punya hak untuk memerintah. "Pak, dewan komisaris sudah menelpon tiga kali. Kita harus kembali ke kantor," suara Aris memecah keheningan di belakangnya. Aksa tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada daun pintu kayu di depannya. "Biarkan dia sendiri dulu, Ris. Kalau saya paksa sekarang, dia hanya akan semakin benci melihat saya." "Tapi Pak ...." "Kita pergi," potong Aksa pendek

