Matahari Jakarta menembus celah gorden penthouse dengan kejam, seolah sengaja ingin menghukum Aksa yang baru saja memejamkan mata dua jam lalu. Kepalanya berdenyut hebat, sisa alkohol semalam terasa seperti ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Aksa mengerang, meraba sisi tempat tidurnya yang kosong—berharap sentuhan tangannya menemukan kulit hangat atau setidaknya kain daster yang beraroma bedak bayi. Tetapi nihil. Yang ia sentuh hanyalah sprei sutra dingin yang menyambutnya. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel di nakas. Layarnya dipenuhi notifikasi. Valerie (02.15): Sa, aku minta maaf soal di bar. Aku cuma terlalu rindu. Valerie (02.45): Kita nggak bisa hapus London begitu aja, Aksa. Please, angkat teleponku. Aksa mendengus sinis, jemarinya bergerak untuk menghapus pesan itu. Namu

