Dua jam kemudian, Aksa sudah berada di sebuah bar eksklusif di pusat Jakarta. Tempat itu gelap, hanya diterangi lampu gantung tembaga yang redup. Aksa duduk sendirian di pojok paling terpencil, di depannya ada tiga botol whisky yang sudah hampir tandas. Dunia di sekitar Aksa mulai berputar. Kepalanya terasa berat, dan setiap kali ia memejamkan mata, wajah Dina yang sedang menangis muncul seperti hantu yang menuntut pertanggungjawaban. Aksa menatap gelas kristalnya yang berembun. Cairan amber di dalamnya tampak bergoyang seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan. Di bar yang remang ini, ia merasa seperti sedang tenggelam dalam kesunyian yang paling bising. "Aksa ... kamu berantakan sekali," sebuah suara lembut dan elegan memecah keheningan batinnya. Aksa mendongak dengan

