Lift pribadi menuju penthouse berdenting halus. Aksa melangkah keluar dengan raut wajah yang jauh lebih cerah dari biasanya. Meski rapat komisaris tadi cukup alot, pikirannya tetap tertuju pada kantong plastik di tangannya: tiga bungkus es cendol dengan santan kental dan nangka potong yang ia beli di pinggir jalan dekat kantor. Ini pertama kalinya pada belasan tahun terakhir, Aksa membeli sesuatu di pedagang kecil tanpa pikir dua kali. "Dina pasti suka ini," gumam Aksa pelan. Ia bahkan tidak sabar ingin menunjukkan pada Dina bahwa dia benar-benar ingat janjinya pada Ibu Sarah. Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, mobil terparkir rapih di garasi penthouse mewah itu. Namun, begitu pintu penthouse terbuka, keheningan yang mencekam menyambutnya. Tidak ada suara televisi, tidak ada

