Aroma matahari dan debu dari rumah lama masih sedikit terasa di kemeja flanel Aksa saat ia melangkah masuk ke penthouse. Ia baru saja selesai berurusan dengan genteng dan makan di warteg bersama Ibu Sarah. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit sebelum ponselnya bergetar hebat. "Rapat darurat, Pak. Dewan komisaris sudah menunggu," suara Aris di seberang telepon terdengar mendesak. Aksa menghela napas, menatap Dina yang sedang bersantai di sofa. "Dina, saya harus ke kantor sebentar. Ada masalah saham. Ibu Sarah di sini bersamamu, ya?" Dina tersenyum tipis, meski wajahnya masih agak pucat. "Iya, Pak Suami. Hati-hati, jangan sampai jatuh dari kursi rapat gara-gara ngantuk habis benerin genteng." Aksa mendengus kecil, lalu bergegas pergi bersama Aris yang sudah menunggunya di

