Pagi itu, penthouse lantai lima puluh lima yang biasanya tenang berubah menjadi medan latihan militer. Ibu Sarah sudah berdiri di depan kamar Aksa sejak pukul enam pagi, lengkap dengan tas belanja kain dan topi lebar. "Nak Aksa, katanya mau ikut Ibu? Ayo cepat! makin siang, nanti rezekimu dipatuk ayam," teriak Ibu Sarah dari balik pintu. Aksa keluar dengan kemeja flanel sederhana yang dibelikan Aris mendadak dan celana chino. Ini adalah pakaian paling "miskin" yang pernah menyentuh kulitnya semenjak ia menjadi CEO, namun di mata Ibu Sarah, Aksa masih terlihat seperti pangeran istana dongeng. "Kita tidak ke pasar lagi kan, Bu? Kemarin kan sudah?" tanya Aksa, mencoba menyembunyikan rasa ngerinya. "Kemarin kan cuma beli lauk. Sekarang kita ke rumah lama Dina. Genteng di bagian dapur k

