Bab 36

1448 Kata

Pasar tradisional di Sabtu pagi adalah definisi neraka pribadi bagi seorang Aksa Adiguna. Jika neraka itu panas, maka pasar ini adalah perpaduan antara hawa sumpek, aroma ikan asin yang beradu dengan knalpot motor, dan genangan air hitam yang entah dari mana asalnya. ​Aksa berdiri mematung di pintu masuk pasar dengan sepatu loafers kulit seharga motor matic. Di tangannya, ia memegang selembar catatan kecil tulisan tangan Ibu Sarah yang penuh coretan. ​"Nak Aksa, jangan bengong aja! Itu tukang ayamnya keburu rame, ayo!" seru Ibu Sarah yang sudah melesat sepuluh meter di depan, daster batiknya berkibar layaknya bendera perang. ​Aksa menghela napas panjang. Ia melirik Aris yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang tidak kalah menderita. Aris membawa dua keranjang plastik warna-warni. ​

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN