Bab 35

1692 Kata

Sinar matahari Jakarta menyelinap malu-malu di balik gorden sutra kelabu yang menutupi jendela raksasa penthouse lantai lima puluh lima. Kamar utama yang biasanya steril dan berbau parfum maskulin mahal itu kini berubah atmosfernya. Ada bau minyak kayu putih yang menyengat, bersaing dengan aroma kopi hitam yang sudah dingin di meja samping tempat tidur. ​Aksa duduk di kursi armchair kulit, kemeja hitam yang ia kenakan semalam masih setia menempel di tubuhnya, tidak lagi rapi alias kusut, dengan lengan bajunya sudah digulung hingga siku. Matanya yang memerah menatap lekat ke arah ranjang. Di sana, Dina tampak seperti tenggelam di balik tumpukan selimut tebal. Wajahnya tidak lagi sepucat kertas, namun sisa-sisa trauma semalam masih terlihat dari jemarinya yang sesekali meremas sprei dalam t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN