Bab 34

1146 Kata

​Lorong beton area servis itu terasa seperti labirin tak berujung bagi Aksa. Suara langkah sepatunya yang menghantam lantai semen bergema keras, menciptakan irama detak jantung yang memburu. Di belakangnya, Aris mencoba mengimbangi langkah lebar bosnya sambil terus berkomunikasi dengan pihak keamanan melalui handy-talky. ​"Pintu gudang pendingin nomor empat, Pak! Di ujung lorong sebelah kanan!" teriak Aris. ​Aksa tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada sebuah pintu besi raksasa yang tampak angkuh di kejauhan. Di atas pintu itu, lampu indikator suhu menunjukkan angka minus 22 derajat Celcius. Angka itu seolah-olah menjadi vonis mati yang tertulis dalam cahaya digital merah. ​"Kuncinya mana?!" raung Aksa saat sampai di depan pintu. Ia sempat menggoyang-goyangkan gagang pintu besar itu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN