Sekar tersengal, bukan hanya keringat tapi darah juga mengucur dari tubuh. la berteriak sekeras mungkin, merasa kalau hidup dan matinya bergantung pada orang yang lewat. Saat Thamrin di belakangnya kembali meraih tumitnya dan ia sekali lagi berteriak, terdengar motor dari kejauhan dan sosok Mandala muncul. “Sekaar!” Menyenderkan motornya sembarangan ke pagar, Mandala berlari dan menghampiri Thamrin. Tanpa basa-basi menghajar dan menendang. “Kamu apakan, Sekar. b*****t. j*****m!” “Ampuun! Tolong, ampuun!” Thamrin berteriak dengan tangan di atas kepala. Sementara Mandala lagi-lagi menghajar wajahnya dan menedang kuat. “Beraninya hanya sama cewek! Banciii!Rasakan ini!” “Kaak, sudah,” ucap Sekar lemah, saat melihat Mandala memukul dengan membabi-buta. Ia takut Thamrin bisa mati. “Kaaak.” I

