“Bisa-bisanya kamu ngomong mau jual rumah ini. Memangnya kamu pikir ada hak?” Mandala menatap Sundari yang terlihat marak di depannya. Dari semenjak peristiwa tadi sore, ia sudah memendam murka atas tindakan ibu tiri dan saudara-saudaranya. Cara mereka mengadili Sekar sungguh sangat kejam menurutnya. “Rumah ini atas nama gue ’kan?” ucapnya acuh. “Memang, tapi juga atas namaku!” sentak Sundari. “Oh, nggak. Lo masuk karena Bapak udah nggak ada. Seingat gue, sertifikat rumah ini atas nama tiga orang, gue, lbu gue dan Bapak. Kalian semua nggak ada,” ucap Mandala sambil menuding tiga orang yang berdiri di hadapannya. “Selama ini gue diam, kalian mau ngomong apa juga terserah. Tapi, gue nggak bisa diam kalau kalian semena-mena sama Sekar!” Roro Ratri mencibir terang-terangan. “Cih, nafsu a

