BAB 36

1418 Kata

Terbaring di ranjangnya yang sempit dan keras, Sekar menatap langit-langit rumah yang rapuh. Ada beberap bagian dari kayu yang sudah keropos. Seandainya ada badai, bisa jadi rumah ini akan hancur diterjang angin. Memikirkan tentang keadaan Si Mboknya kalau sampai itu terjadi, membuatnya bergidik ngeri. la memiringkan tubuh, menatap sosok Si Mboknya yang tidur meringkuk di depannya. Ia berharap, esok dan hari-hari selanjutnya, masalah tidak lagi mendera dengan kejam. Semoga saja, ia dan Si Mboknya diberi kesempatan untuk bahagia. Tidak dapat memicingkan mata semalam suntuk, membuat badan Sekar lemas saat pagi. Ia terduduk di dipan dan merenung. Biasanya ia sudah bangun saat Subuh, selain menyiapkan sarapan juga membersihkan rumah. Kini, di rumahnya sendiri ia justru bingung mau melakukan a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN