Di balai desa, orang orang berkumpul. Mereka menatap Sekar yang duduk bersimpuh di atas lantai, sementara Sundari dan Roro Ratri berdiri tak jauh darinya. Mata-mata yang menatap dingin, mencemooh, menghakimi. Beberapa tetua desa datang dengan keangukahan dari sikap mereka. Banyak warga berkerumun di depan pintu, saling bergumam, mengomentari hal-hal yang mereka kira tahu dan paham. Dugaan-dugaan, menjalar di tiap bilik pikiran orang-orang yang berada dalam ruangan besar itu. Sekar terduduk di lantai, memandang nanar pada orang-orang yang duduk di kursi. Dia merasakan hawa dingin menembus tulang karena tatapan antipasti yang ditujukan orang-orang itu untuknya. Seakan dia adalah pendosa, seakan tubuhnya berlumur kesalahan tak termaafkan. “Perempuan tak tahu malu,” desis Sundari dengan mata

