BAB 34

1705 Kata

Di balai desa, orang orang berkumpul. Mereka menatap Sekar yang duduk bersimpuh di atas lantai, sementara Sundari dan Roro Ratri berdiri tak jauh darinya. Mata-mata yang menatap dingin, mencemooh, menghakimi. Beberapa tetua desa datang dengan keangukahan dari sikap mereka. Banyak warga berkerumun di depan pintu, saling bergumam, mengomentari hal-hal yang mereka kira tahu dan paham. Dugaan-dugaan, menjalar di tiap bilik pikiran orang-orang yang berada dalam ruangan besar itu. Sekar terduduk di lantai, memandang nanar pada orang-orang yang duduk di kursi. Dia merasakan hawa dingin menembus tulang karena tatapan antipasti yang ditujukan orang-orang itu untuknya. Seakan dia adalah pendosa, seakan tubuhnya berlumur kesalahan tak termaafkan. “Perempuan tak tahu malu,” desis Sundari dengan mata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN