59. Panggilan yang Dinanti

2101 Kata

Beberapa hari kemudian … “Mas Kiaaan!” teriakku keras dengan suara yang melengking. Saking kerasnya, suaraku sampai menggema di seluruh ruangan. Hanya dalam hitungan detik saja, pintu kamar terbuka dan Mas Kian masuk dengan ekspresi wajah panik. Sebelah alisnya terangkat, aku pun cemberut. “Kenapa, Fi? Kenapa teriak-teriak? Ini masih pagi, lho!” “Aku sebel banget sama Mas!” aku tak dapat menyembunyikan ekspresi kesalku. “Sebel? Sebel kenapa?” “Bisa enggak, kalau ngasih tanda jangan di tempat yang kelihatan begini? Gimana nutupinya, coba? Udah aku tutupin cushion tetap enggak ketutup. Malah jadi aneh banget! Jadi aku hapus lagi.” Wajah panik Mas Kian seketika melunak. Itu membuatku semakin kesal. Pasalnya, ekspresinya saat ini mendadak jadi bangga, padahal yang dia lakukan adalah seb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN