Kaizen bangkit perlahan, tubuh polosnya menjauh dari kasur yang tampak sedikit berantakan. Selimut yang membalut tubuh Sea ia betulkan dengan lembut, memastikan wanita itu tetap nyaman dalam tidurnya. Wajah Sea terlihat lelah, sepertinya akibat digempur dua ronde tanpa jeda. Kaizen memang bringas. Andai jika dia tidak ingat Sea sedang hamil, mungkin sudah digempur sepuluh ronde. Tapi melihat wajah lelah istrinya, dia tidak menyesal sama sekali. Malah memamerkan senyum tipisnya. “Jadi seperti ini rasanya bergulat dengan wanita yang dicinta?” Dia memang tidak pernah bisa puas jika berurusan dengan Sea. Setelah mengecup kening istrinya, Kaizen meraih brief yang tergonggok di lantai dan mengenakannya dengan gerakan santai, lalu berjalan menuju balkon sambil membawa sebungkus rokok dan p