Hari-hari Grace hanya diam sajaa meskipun Xavier selalu mengunjunginya, dia bahkan tidak pernah memperhatikannya, hatinya masih diliputi oleh kesedihan atas meninggalnya calon suaminya.
Xavier sendiri tidak pernah memaksa Grace, dia hanya datang menjenguk dan mengatakan beberapa hal kepadanya lalu pergi dari sana. Namun di setiap kunjungannya, dia selalu mengatakan jika Xavier sangat mencintai Grace.
Megie sang ibu benar-benar sedih. Sudah satu minggu tapi Grace masih belum berbicara dengan siapapun, beruntung dia mau makan meskipun selalu dalam paksaan dan hanya sedikit.
"Nanti orang tua Xavier akan datang untuk membahas pernikahan." Ucap George yang membuat Megie terdiam.
"Apa keputusan kita tidak salah menikahkan Grace dalam kondisi seperti ini?" Tanya Magie yang sedikit ragu, dia hanya ragu karena kondisi Grace, bukan karena dia akan menikah dengan siapa.
"Tidak!" Jawab George dengan yakin.
"Jika tidak ada seseorang di samping Grace, maka mungkin kondisinya akan sama saja seperti ini, tidak ada yang bisa aku percaya menjaga Grace jika bukan Xavier, aku bahkan melihat ketulusan cintanya. Dia sangat mencintai Grace meskipun melihat Grace bahagia menikah dengan orang lain, dia tidak pernah menganggunya namun malah memberikan darahnya yang begitu banyak kepada Reyhan waktu itu agar Reyhan tetap hidup dan bisa mmebahagiakan Grace, dia tau jika Grace akan hancur jika tanpa Reyhan. Itu adalah cinta sejati." Ucap George.
"Grace memang tidak mengatakan iya atas perjodohan ini, tapi dia juga tidak pernah mengatakan kita membahas perjodohannya, dia juga tidak menolak saat Xavier datang ke sini untuk menemaninya. Dan aku menganggap itu sebagai persetujuan darinya." Ucap George.
"Dia sepertinya mendengarkan perkataan terakhir Reyhan yang mengatakan jika dirinya harus menikah dengan Xavier." Ucap Megie, dia sangat tau memang waktu itu Reyhan meminta Xavier dan Grace menikah sebelum dia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Malam harinya, Xavier dan orang tuanya benar-benar datang, sebelum membahas pernikahan mereka, Helen pergi ke kamar Grace untuk melihat keadaannya.
Dia juga ingin meminta maaf kepadanya karena dulu dia bersikap tidak baik kepadanya dan akhirnya membuat dia dan Xavier berpisah.
Di dalam kamar, memang terlihat sangat sunyi, bahkan Grace hanya duduk di sofa dengan menghadap kaca besar yang ada di sana untuk melihat pemandangan luar kamarnya.
"Grace." Panggil Helen yang duduk di samping Grace.
Sejujurnya Grace sangat terkejut, selain terkejut karena tiba-tiba ada yang memanggilnya, dia juga terkejit karena yang menghampirinya adalah ibu dari Xavier, di mana dulu dia tidak pernah memanggilnya atau berbicara dengannya dengan lembut seperti ini.
Dia menoleh dan hanya memandangi Helen tanpa berbicara apapun.
"Aku datang untuk meminta maaf." Ucap Helen. Meskipun dulu dia tidak menyukai Grace sebagai menantunya, namun melihat kondisinya seperti ini, dia menjadi merasa iba dan kasihan. Dia juga lebih kasihan dengan putranya karena dia menikahi wanita di mana hatinya sudah tidak ada dirinya, melainkan pria lain.
"Sikapku dulu membuatmu dan Xavier berpisah dan aku sangat menyesal, Xavier sangat mencintaimu. Tolong terima dia sebagai teman hidupmu," Ucap Helen.
"Awalnya aku ingin dia bahagia dengan bersama wanita pilihanku, tapi aku sadar jika bahagianya bukan dengan wanita lain, bahagianya terletak padamu, dan bahagiaku adalah melihat putraku bahagia. Aku berjanji akan selalu mendukung hubungan kalian dan menjadikanmu putri di keluarga kami." Ucap Helen, dia menangis dan besar sekali harapannya agar Grace menerima putranya kembali di saat dirinya tau jika di hati Grace sudah tidak ada Xavier.
Grace hanya menunduk dan tidak menjawabnya, dia meremas tangannya sendiri.
"Mom." Xavier memanggil ibunya karena melihat Grace seperti tertekan dengan perkataan ibunya.
"Tolong keluarlah dulu." Ucap Xavier yang meminta ibunya untuk keluar dan akhirnya Helen keluar.
Xavier menghela nafas panjangnya dan menghampiri Grace.
"Orang tuaku datang untuk membicarakan soal pernikahan kita. Aku berencana ingin memajukan pernikahan kita satu bulan lagi, katakan jika kau keberatan." Ucap Xavier namun Grace masih terdiam.
"Aku sangat mencintaimu, Grace! Maafkan aku jik terdengar egois, tapi aku ingin secepatnya membahagiakanmu." Ucap Xavier yang akhirnya dia berdiri dan ingin keluar dari sana.
"Kau menikahi wanita yang baru saja kehilangan calon suaminya, aku hanya akan mengatakan satu hal jika aku mau menikah denganmu, tapi alasannya karena permintaan Reyhan." Ucap Grace yang akhirnya berbicara. Awalnya Xavier sangat senang dengan perkataan Grace yang mau menikah dengannya dan menerimanya, namun mendengar alasannya, dia merubah wajahnya.
Xavier mendekat ke arah Grace yang membuat Grace sempat terkejut karena Xavier menarik tubuhnya dengan pelan sehingga tatapan mereka bertemu.
Grace hanya diam saja ketika Xavier semakin mendekat ke wajahnya, dia bahkan bisa mencium nafas Xavier, pria yang dulu pernah membuat dia patah hati juga seperti ini karena hubungan mereka yang kandas.
Xavier memegangi tengkuk leher Grace dan semakin mendekatinya. Grace sendiri memalingkan wajahnya karena Xavier benar-benar mendekat bahkan seperti ingin menciumnya.
"Kau milikku, Grace!"