Pria itu ... Tentu saja, Aryan. Pria itu entah bagaimana sudah berada di sana dalam hitungan detik. Ia memeluk Ghea begitu erat hingga Ghea bisa mendengar deru napas Aryan yang memburu tepat di telinganya. Kacamata hitam Aryan sedikit miring, memperlihatkan kemarahan sekaligus kekhawatiran yang luar biasa di matanya. "Sudah saya bilang, jangan jauh-jauh dari saya!" desis Aryan dengan suara yang rendah namun sarat akan emosi. Seluruh tim ternganga. Pak Heru membeku, sementara Kelvin hanya bisa terdiam melihat bagaimana tangan sang CEO tidak melepaskan pinggang Ghea meski bahaya sudah lewat. "Maaf, Pak... saya tadi cuma mau liat lobi," bisik Ghea, jantungnya berdebar bukan hanya karena hampir jatuh, tapi karena tatapan Aryan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Aryan tidak memedul

