BAB 34: CEO di Pasar Tradisional Pukul 04.30 WIB. Di saat para eksekutif Jakarta masih bergelung di balik selimut sutra mereka, pintu kamar Aryan diketuk dengan penuh semangat. Bukan ketukan lembut Ghea, melainkan ketukan yang ritmenya mirip dengan tabuhan bedug subuh. "Nak Aryan! Ayo bangun! Katanya mau belajar jadi menantu idaman!" teriak Ibu Sumi dari balik pintu. Aryan terjaga seketika. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, mengusap wajahnya yang masih mengantuk. Selama delapan tahun, jadwal subuhnya adalah meditasi atau membaca laporan keuangan, bukan bersiap untuk "bertempur" di pasar. Namun, demi restu dan demi Ghea, Aryan bangkit. Ia mengenakan kaos polos hitam dan celana training, sebuah tampilan yang sangat tidak "CEO banget". Di ruang tengah, Ghea sudah siap dengan wajah yang m

