BAB 38: Maharnya Ikan Asin Kilatan lampu flash masih membekas di retina mata Ghea saat ia dan Aryan berjalan keluar dari ruang konferensi menuju lift khusus. Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan menyelimuti mereka berdua. Ghea menyandarkan punggungnya ke dinding lift, napasnya masih memburu. "Saya tadi... ngomongnya terlalu berani ya, Pak?" tanya Ghea pelan, menatap ujung sepatunya. Aryan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat, mengurung tubuh Ghea di antara kedua lengannya yang bertumpu pada dinding lift. "Kamu tadi sangat luar biasa, Ghea. Saya belum pernah melihat seseorang membela saya seperti itu." "Saya cuma nggak suka Bapak dihina gara-gara saya," bisik Ghea. Aryan merunduk, menempelkan dahinya ke dahi Ghea. "Mulai besok, seluruh Indonesia tahu si

