BAB 36: Kabut di Lantai 50 Pagi hari menjelang presentasi besar adalah saat di mana seluruh gedung Wiratama Tower terasa bergetar oleh kegugupan. Para investor dari Singapura dan beberapa kolega papan atas akan datang untuk melihat desain akhir Resort Sentul. Proyek ini bukan hanya soal gedung, tapi soal harga diri Aryan yang dipertaruhkan setelah ia menolak intervensi ayahnya. Di ruang kerja CEO, sebuah kanvas besar yang ditutupi kain beludru hitam berdiri tegak di tengah ruangan. Itu adalah "jiwa" yang Ghea maksud—hasil meditasi Aryan dengan kuas dan cat selama seminggu terakhir. "Pak, Bapak sudah sarapan?" Ghea masuk dengan membawa kotak bekal berisi nasi kuning buatan Ibu Sumi. "Jangan sampai pingsan di depan investor gara-gara telat makan." Aryan, yang sedang merapikan dasinya

