Cahaya jingga sisa matahari sore merayap masuk melalui celah gorden kamar, menciptakan bayangan panjang di atas tempat tidur berantakan. Di balik selimut tebal, Jandita masih terlelap. Napasnya teratur, namun wajahnya tampak sangat damai, seolah-olah seluruh beban dunia yang menghimpitnya selama beberapa hari terakhir telah luruh bersama keringat dan desah napas di ruang kerja dan kamar mandi tadi. Dewangga, yang sudah lebih dulu segar setelah mandi dan menyelesaikan sisa laporannya, masuk ke kamar dengan langkah sepelan mungkin. Ia berdiri di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Campuran antara cinta yang meluap dan kecemasan yang samar. Ia sempat khawatir Jandita jatuh sakit karena kelelahan yang luar biasa, mengingat betapa hebatnya "pertempuran" merek

