“Akhirnya mulai sekarang … aku nggak jadi sekretaris yang boros bensin lagi.” “Stella, entah sampai kapan kamu mengungkit hal itu.” “Aku juga nggak tahu, kok bisa ingat terus?” “Dari sekian banyak hal yang saya ucapkan, kenapa kamu malah mengingat yang itu?” “Soalnya itu yang terdengar paling jujur.” “Saya kira saya selalu jujur.” “Enggak. Pak Arga pernah berbohong dengan sangat mengada-ada.” Arga mengernyit. “Kapan itu?” “Saat meminta restu pada orangtuaku di kampung. Pak Arga mengeluarkan kata-kata yang menurutku romantis andai dikatakan dengan tulus dan jujur, tapi itu kan jelas-jelas bohong.” “Saya berlebihan, ya? Tapi nggak apa-apa, yang penting pada akhirnya orangtua kamu jadi mertua saya.” Jeda selama beberapa saat. Arga masih mengemudikan mobil menuju rumahnya. Perkiraan