Kabut tipis masih menggantung rendah di antara atap-atap rumah ketika Felisha memarkir mobilnya di depan butik. Jalanan belum ramai. Hanya satu dua motor melintas, suara knalpotnya teredam udara dingin yang belum sepenuhnya pergi. Felisha duduk sejenak di balik kemudi, tangannya masih menggenggam setir, matanya menatap pintu kaca butik yang tertutup rapat. Ia selalu menyukai jam-jam seperti ini. Jam sebelum kota terjaga sepenuhnya. Jam ketika tidak ada tuntutan untuk menjadi siapa pun. Felisha turun dari mobil, membuka pintu butik, dan disambut aroma kain dan kayu yang akrab. Ia menyalakan lampu satu per satu, membiarkan ruangan itu kembali hidup perlahan. Rak-rak gaun berdiri rapi, manekin-manekin diam seolah menunggu sentuhan. Di tempat ini, ia tidak dikenal sebagai istri calon gubernu

