Bab 75

1104 Kata

Bandung menyambut Felisha dengan hujan sore yang turun perlahan, seperti ingin memastikan ia benar-benar berhenti sejenak. Bukan hujan deras yang memaksa orang berteduh, melainkan hujan tipis yang membasahi trotoar dan membuat aroma tanah naik ke udara. Felisha berdiri di depan jendela rumah lamanya, memandangi halaman kecil yang ia kenal sejak lama. Rumah itu tidak besar, tapi ia punya kenangan yang cukup untuk membuatnya merasa kembali menjadi dirinya sendiri. Ia menaruh tas di kursi, melepas sepatu, lalu duduk di lantai tanpa menyalakan lampu. Sunyi menyambutnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, sunyi itu tidak menakutkan. Di Jakarta, Grari berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap langit yang sama-sama kelabu. Kota itu tidak pernah benar-benar diam, bahkan ketika

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN